Oleh: RAR
Minggu 4 Desember 2010 ini bukan saja merupakan Milad pertama GAM tanpa kehadiran Tgk Hasan di Tiro, namun juga masa penting bagi evaluasi gerakan pembebasan yang sudah berumur 34 tahun itu. Evaluasi perlu dilakukan bukan saja memperjelas transisi kepemimpinan, namun juga untuk memperjelas strategi dan agenda perjuangan dimasa yang akan datang. Pasca MoU 2005 hingga hari ini road-map menuju kemerdekaan Aceh semakin tak tentu arah. Komponen-komponen yang dulunya pro kemerdekaan kini justru terlibat konflik internal yang terbuka. Agenda-agenda jangka pendek sama sekali tidak memberi sinyal kearah pencapaian tujuan jangka panjang dari cita-cita awal. Modal-modal ekonomi, kekuasaan politik, jaringan yang terbuka lebar pasca MoU tidak terlihat digunakan untuk perjuangan kemerdekaan Aceh.
By. Rasyidin IKAPA Bandung
Secara kasat mata bahawa hasil SEMILOKA yang di adakan pada tanggal 19 April 2008 di Hotel Horizon-Bandung, menuai kesejahteraan yang paling mengutungkan bagi orang Aceh. padahal pada kenyataannya bahwa Kuntoro Cs dan Pemerintah RI mulai memberi tamparan dengan gaya baru dan sekaligus mengencingi Rakyat Aceh dengan gaya Baru.
Fakta yang wagub utarakan antara lain " bahwa pada dasarnya Masyarakat Aceh tidak perlu khawatir dengan berakhirnya BRR di Aceh, karena staf yang ada di BRR pada umumnya adalah orang yang datang dari luar Aceh" artinya “ternyata campur tangan pemerintah pusat masih sangat kuat di Aceh.
[ penulis: Yusra Habib Abdul Gani | topik: Pendidikan ]DAHULU dan juga sekarang, oleh pakar kolonialis tentang falsafah dan seni sastra dipakai sebagai barometer kadar kekentalan nasionalisme, kekuatan politik dan militer suatu bangsa. Dari gerak dan lirik seni sastra yang diluahkan oleh seseorang maupun berkelompok dalam bentuk pepatah, pantun dan puisi tentang: cinta, kritik, pujian, sindiran, membuka ´aib, patriotsme dan heroisme, terpantul mentalitas mereka.
Revisi Perpres BRR Berlangsung PanasUang Tsunami Dibeli Senjata dan Amunisi
[ rubrik: Serambi | topik: Rekontruksi & Rehabilitasi Aceh ]
BANDA ACEH - Dana rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh-Nias pascagempa dan gelombang tsunami 2004 lalu, ternyata juga digunakan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, untuk membeli peralatan militer seperti, suku cadang pesawat, senjata dan amunisi bagi TNI/Polri. Hal itu terungkap dalam rapat pembahasan revisi (perubahan) isi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 30 Tahun 2005 tentang Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat NAD dan Kepulauan Nias, yang berlangsung di Hotel Sulthan, Banda Aceh, Rabu (12/3) kemarin.
Reporter : Zulhelmi
Bireuen, acehkita.com. Senjata kembali menyalak dan mengambil korban jiwa di masa damai ini. Ibrahim Husaini (60), warga Desa Paya Cut, Kecamatan Peusangan, Bireuen, tewas setelah peluru yang dilesakkan pelaku yang belum terindentifikasi bersarang di kepalanya, sekitar pukul 17.00 WIB, Sabtu (29/12). Polisi belum mengetahui pelaku dan motif pembunuhan keji itu.
Reporter : Tim AcehKita
Aceh Utara, acehkita.com. Anggota Komite Peralihan Aceh wilayah Pasee Teuku Badruddin dilaporkan tewas setelah diberondong timah panas di Desa Pante Jaloh, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Kamis (27/12) malam. Selain menewaskan Badruddin, penembakan yang dilakukan oleh pelaku yang belum diketahui identitasnya itu juga ikut melukai Mahmuddin (19), dan Fitriadi (17). Keduanya masih dirawat di RS Palang Merah Indonesia Lhokseumawe. Ketiga korban ditembak di halaman rumah Teuku Badruddin.